“Festival Banner & Dosen Berkeliling: Drama 64 Mahasiswa di Ruang Teater”
“Festival Banner & Dosen Berkeliling: Drama 64 Mahasiswa di Ruang Teater”
Hari itu, ruang teater kampus berubah seperti arena talent show besar-besaran. Sebanyak 9 dosen sudah
siap dengan gaya
masing-masing, sementara 64 mahasiswa bersiap menghadapi momen yang
menentukan masa depan (dan ketenangan tidur mereka).
Setiap dosen kebagian sekitar 15 mahasiswa, tapi
entah kenapa rasanya semua mahasiswa merasa mereka diuji oleh semua
dosen sekaligus.
Mahasiswa datang membawa perlengkapan lengkap: banner ukuran hampir menyamai tinggi badan, dan laporan akhir yang tebalnya mengalahkan komik-komik One Piece.
Begitu acara dimulai, pemandangan unik pun muncul:
Ada dosen yang serius berkeliling melihat banner, sambil mengangguk-angguk seperti sedang menilai karya seni abstrak. Ada juga dosen yang gayanya seperti petugas check-in bandara, memanggil mahasiswa satu-satu:
"Ayo sini, duduk di sebelah saya. Bawa laporanmu ya… Jangan deg-degan,
saya yang deg-degan."
Mahasiswa duduk di samping dosen, sebagian kaku, sebagian tampak seperti ingin teleport ke dimensi lain.
Setelah sesi tanya jawab yang kadang tegang, kadang seperti ngobrol santai sambil ngopi, barulah dosen itu berdiri dan berkata:
"Oke, sekarang kita lihat bannermu. Semoga tidak lebih besar dari pintunya."
Sementara itu, mahasiswa lain sibuk menata banner mereka agar tidak tiba-tiba roboh seperti tenda camping.
Ada yang menempelkan dengan rapi, ada yang memegang sendiri karena lakbannya menyerah duluan.
Ruang teater itu akhirnya penuh dengan suara:
– mahasiswa menjelaskan,
– dosen bertanya,
– banner yang kresek-kresek bergerak kena angin AC,
– dan desahan mahasiswa yang baru selesai diuji seperti habis menang lari marathon.
Di balik semua itu, suasana tetap menyenangkan.
Ada tawa kecil, ada momen lucu ketika banner jatuh pas dosen lewat, dan ada
juga mahasiswa yang menyerahkan laporan dengan tangan gemetar tapi tetap
tersenyum.
Ujian pun berakhir dengan damai. Dosen puas, mahasiswa lega, banner dilipat, dan ruang teater kembali sunyi… kecuali beberapa mahasiswa yang bilang:
"Besok masih ada lagi nggak sih? Biar mental sekalian kebal.”
Minumnya es jeruk nipis.
Kerja itu bukan cuma terlihat hebat,
Tapi bukti nyata yang paling manis.
Comments