Pertemuan ke 9 ISU ETIKA, SOSIAL, DAN POLITIK DALAM E-COMMERCE
Pertemuan ke 9
ISU ETIKA, SOSIAL, DAN POLITIK DALAM E-COMMERCE
Pagi itu, suasana kelas Sistem Informasi terasa berbeda. Mahasiswa terlihat lebih santai, sebagian sibuk dengan ponsel masing-masing, membuka aplikasi belanja online. Tidak lama kemudian, dosen memasuki ruangan dengan senyum ramahnya.
Beliau memulai perkuliahan dengan pertanyaan sederhana, “Siapa di sini yang pernah belanja online minggu ini?”
Hampir semua tangan terangkat. Suasana kelas pun menjadi hidup.
Dosen kemudian melanjutkan, “Baik, sekarang saya tanya lagi. Siapa yang pernah merasa ‘diikuti’ oleh iklan setelah mencari suatu barang?”
Beberapa mahasiswa langsung tertawa. Alya mengangkat tangan dan bercerita bahwa ia hanya melihat tas sekali, tetapi setelah itu semua iklan di ponselnya berubah menjadi tas. Hal ini membuatnya merasa aneh sekaligus sedikit khawatir.
Dari situlah dosen mulai menjelaskan bahwa apa yang dialami Alya adalah bagian dari sistem e-commerce yang bekerja dengan mengumpulkan dan menganalisis data pengguna. Setiap aktivitas online—mulai dari pencarian, klik, hingga pembelian—dapat direkam dan digunakan untuk membentuk profil pengguna.
Mahasiswa mulai menyadari bahwa data pribadi mereka, seperti nama, alamat, lokasi, bahkan kebiasaan belanja, dapat dikumpulkan oleh sistem. Raka tampak terkejut dan bertanya apakah semua data tersebut benar-benar digunakan oleh perusahaan.
Dengan tenang, dosen menjelaskan bahwa di sinilah muncul isu etika dalam e-commerce. Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menggunakan data secara benar, sementara pengguna juga harus bijak dalam membagikan informasi pribadi. Konsep seperti ethics, responsibility, dan accountability menjadi penting dalam dunia digital.
Namun, tidak semua hal dapat dinilai hitam atau putih. Dosen kemudian menjelaskan tentang dilema etika. Di satu sisi, penggunaan data dapat memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengguna, seperti rekomendasi produk yang relevan. Namun di sisi lain, hal tersebut dapat melanggar privasi.
Mahasiswa mulai terdiam, mencoba memahami kompleksitas masalah tersebut.
Link nya publish
Pembahasan berlanjut pada hak privasi. Setiap individu memiliki hak untuk melindungi data pribadinya, termasuk hak untuk menghapus informasi yang telah dibagikan di internet. Namun, dalam praktiknya, hal ini tidak selalu mudah dilakukan.
Dosen juga menyinggung peran media sosial yang mendorong pengguna untuk membagikan informasi pribadi secara sukarela. Tanpa disadari, pengguna justru memberikan lebih banyak data kepada perusahaan.
Topik kemudian bergeser ke ranah yang lebih luas, yaitu aspek politik. Dosen menjelaskan bahwa pemerintah juga memiliki peran dalam mengatur dan mengawasi penggunaan data. Dalam beberapa kasus, data pengguna dapat diakses untuk kepentingan keamanan dan penegakan hukum. Hal ini menimbulkan pertanyaan baru tentang batas antara keamanan dan privasi.
Kelas menjadi semakin serius. Mahasiswa mulai memahami bahwa e-commerce bukan hanya soal jual beli, tetapi juga berkaitan dengan etika, masyarakat, dan kekuasaan.
Sebagai penutup, dosen mengajak mahasiswa untuk berpikir kritis. Ia menekankan pentingnya menjaga data pribadi, memahami hak sebagai pengguna, serta menggunakan teknologi secara bijak.
Ketika kelas berakhir, suasana berubah menjadi reflektif. Mahasiswa tidak lagi sekadar melihat e-commerce sebagai kemudahan, tetapi juga sebagai sistem kompleks yang membawa berbagai konsekuensi.
Dalam hati mereka, muncul kesadaran baru—bahwa di balik kemudahan teknologi, terdapat tanggung jawab besar yang harus dijaga.


Comments