Menghadiri Pernikahan Ponakan
- Get link
- X
- Other Apps
Menghadiri Pernikahan Ponakan
Aku masih ingat pagi itu, ketika undangan berwarna krem dengan tulisan emas sampai di meja kerjaku. Nama ponakanku tertera jelas di sana. Rasanya baru kemarin aku menggendongnya yang masih bayi, sekarang ia sudah siap memulai hidup baru.
Hari pernikahan tiba dengan langit yang cerah, seolah ikut merestui. Aku datang lebih awal ke gedung, ingin melihat semuanya dengan tenang sebelum ramai. Dekorasinya sederhana tapi hangat — bunga putih dan hijau muda menghiasi setiap sudut, wangi segarnya langsung menyambut siapa pun yang masuk.
Saat aku melihat ponakanku duduk di kursi rias, aku sempat terdiam. Wajahnya berseri, campuran antara bahagia dan gugup.
“Om/Bu… aku deg-degan,” katanya pelan sambil tertawa kecil.
Aku menggenggam tangannya. “Itu tanda kamu akan melakukan sesuatu yang besar dan indah.”
Akad berlangsung khidmat. Suara ijab kabul terdengar jelas, dan ketika dinyatakan sah, ruangan langsung dipenuhi ucapan syukur. Aku melihat mata kakakku berkaca-kaca. Kami saling pandang dan tersenyum — senyum orang tua dan keluarga yang merasa tugasnya perlahan selesai, sekaligus dimulai lagi dalam bentuk berbeda.
Di resepsi, suasana berubah jadi hangat dan penuh tawa. Musik mengalun lembut, tamu-tamu berdatangan memberi doa. Aku sempat berbincang lama dengan ponakanku dan pasangannya. Cara mereka saling menatap membuatku yakin: mereka bukan hanya menikah karena cinta, tapi juga karena siap berjalan bersama saat hidup tidak selalu mudah.
Sebelum pulang, aku memeluk ponakanku erat.
“Terima kasih sudah datang,” bisiknya.
Aku menjawab, “Terima kasih sudah tumbuh jadi pribadi sebaik ini. Pernikahan bukan akhir cerita, tapi bab baru. Tulis yang indah, ya.”
Di perjalanan pulang, hatiku terasa penuh. Menghadiri pernikahan ponakan ternyata bukan sekadar datang ke acara keluarga. Itu seperti menonton waktu berjalan, melihat generasi berikutnya melangkah maju, dan menyadari bahwa cinta dalam keluarga diam-diam selalu berpindah tangan, dari yang lebih tua… ke yang lebih muda.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments