Rapat yang Tak Pernah Usai
Rapat yang Tak Pernah Usai
Senin pagi, di kantor konsultan Logika Filsuf & Co., para karyawan duduk melingkar di ruang rapat. Bos mereka, Pak Adi, sudah siap memimpin pertemuan. Di meja, ada kopi, camilan… dan tentu saja, tumpukan masalah.
1. Pemikir Asosiasi – Andi
Andi mengangkat tangan duluan. “Pak, saya rasa proyek kita gagal karena klien jarang senyum. Orang kalau nggak senyum itu biasanya benci.”
Sari menatapnya. “Andi, bisa jadi dia cuma belum gosok gigi.”
Semua tertawa, Andi tersipu.
2. Pemikir Curah – Guntur
Guntur langsung menyerbu, “Kita bikin festival, seminar, lomba makan kerupuk, bazar kuliner, konser dangdut, parade cosplay—”
Pak Adi mengangkat tangan. “Guntur, pelan-pelan. Ini rapat, bukan audisi MC acara 17-an.”
3. Pemikir Pengulang – Bima
Bima menimpali, “Pokoknya harus kreatif. Kreatif itu penting. Kreatif bikin sukses. Jadi harus kreatif.”
Rina berbisik ke sebelahnya, “Aku rasa kata ‘kreatif’ hari ini udah jadi kata terlarang.”
4. Pemikir Emosional – Rina
Rina berkata, “Aku nggak suka ide konser.”
Pak Adi bertanya, “Kenapa?”
Rina mengangkat bahu. “Ya… nggak sreg aja. Feeling.”
Pak Adi memegang jidat. “Rina, feeling nggak bisa dimasukkan ke proposal anggaran.”
5. Pemikir Cerita – Dani
Dani berdiri. “Dulu waktu SMP, saya ikut lomba pidato. Nah, waktu itu—”
Lima menit berlalu. Semua masih menunggu hubungannya dengan proyek.
Pak Adi akhirnya memotong, “Dani, kita simpan dulu kisah masa kecilnya, ya?”
6. Pemikir Reaktif – Wulan
Setiap ide keluar, Wulan langsung mengibarkan bendera merah. “Enggak! Ribet! Nggak akan berhasil!”
Sampai akhirnya Sari menyarankan, “Wulan, coba kita bikin aturan: minimal jeda tiga napas sebelum komentar.”
7. Pemikir Cemas – Yusuf
Yusuf memandang ke atas, ke bawah, ke semua arah. “Kalau gagal? Kalau rugi? Kalau hujan? Kalau listrik mati? Kalau artisnya batal datang?”
Pak Adi menepuk bahunya. “Yusuf, kalau kamu pikirin semua skenario kiamat, kita nggak akan mulai-mulai.”
Akhirnya, setelah dua jam penuh tawa, debat, dan sedikit drama, Pak Adi berkata,
“Kita semua punya cara berpikir beda-beda. Tapi kalau mau proyek ini jalan, kita harus belajar nyusun ide kayak nyusun lemari: rapi, teratur, dan tahu mana yang harus dibuang.”
Semua mengangguk. Meski mereka tahu minggu depan rapat pasti tetap ribut… tapi setidaknya, kali ini mereka pulang sambil tertawa bersama

Comments