Resume Pertemuan ke 5 Menulis Dongeng dan Cerita Fabel
Judul : Menulis Dongeng dan Cerita Fabel
Penyusun
: Safrizal
Resume
ke : 5
Gelombang :
33
Hari/
Tanggal : Jumat, 15 Agustus 2025
Tema
: Menulis Domgeng dan
Cerita Fabel
Narasumber :
Helwiyah,S.Pd.,MM
Moderator :
Maesaroh,M.Pd
Menulis Dogeng dan Cerita Fabel
Asalam mualaikum wr wb
1. Apakah dongeng?
Di sebuah sore yang hangat, sekelompok anak duduk melingkar di bawah pohon besar. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah yang lembap. Seorang nenek berambut putih duduk di tengah lingkaran, tersenyum sambil berkata,
“Kalian tahu, anak-anak… sejak dulu manusia suka bercerita. Salah satu bentuk
cerita yang paling tua dan paling disukai adalah dongeng.”
Nenek
itu melanjutkan dengan suara pelan tapi jelas,
“Dongeng adalah cerita yang lahir dari imajinasi. Ia tidak selalu benar-benar
terjadi, tapi punya daya ajaib untuk membuat kita terbawa masuk ke dalam
dunianya. Dalam dongeng, hewan bisa berbicara, pohon bisa berjalan, dan
keajaiban bisa muncul kapan saja.”
Anak-anak
mendengarkan dengan mata berbinar.
“Meski
sering dibuat untuk anak-anak,” kata sang nenek sambil tersenyum, “banyak orang
dewasa juga menyukai dongeng. Di dalamnya ada pesan moral, pelajaran hidup, dan
harapan yang membekas di hati. Dongeng adalah jembatan antara hiburan dan
pendidikan, antara fantasi dan kebijaksanaan.”
Angin
kembali berhembus, seakan ikut menyetujui kata-kata sang nenek. Lalu, ia
menutup penjelasannya dengan berkata,
“Jadi, nak… dongeng bukan hanya cerita untuk tidur. Ia adalah cerita yang
membangunkan imajinasi, menumbuhkan hati, dan menuntun kita pada kebaikan. Ujar
ibu Helwiyah,S.Pd.,MM dipelatihan
menulis KBMN gelombang 33 pada pertemuan ke 5
Karena sifatnya yang fiktif dan imajinatif, dongeng memberi kebebasan bagi penulis untuk bermain dengan kata-kata yang indah, memancing rasa ingin tahu pembaca, dan menuntun mereka untuk terus membaca hingga akhir. Melalui dongeng, pembaca seolah diajak melangkah masuk ke dalam kisah yang sedang dibangun — merasakan setiap desiran angin, menapaki setiap jalan berliku, dan menyaksikan petualangan yang penuh tantangan, kesedihan, kebahagiaan, bahkan misteri.
Dongeng
bukan sekadar hiburan. Ia adalah jembatan bagi penulis untuk menyampaikan pesan
yang diinginkan, mengajak pada perbaikan diri, dan membentuk karakter pembaca
melalui kisah dan tokoh yang hidup di dalamnya. Meski sering kali sederhana dan
tidak terlalu panjang — bahkan cukup 300 kata saja — sebuah dongeng tetap dapat
meninggalkan kesan mendalam jika unsur-unsur ceritanya lengkap dan bahasa yang
digunakan sederhana namun memikat.
Setiap
dongeng memiliki tujuan yang berbeda, tergantung keinginan penulis. Ada yang
berisi sindiran halus, nasihat, pesan moral, pendidikan, bahkan hiburan semata.
Kekuatan sebuah dongeng banyak bergantung pada tokohnya. Tokoh-tokoh ini bisa
berupa manusia, hewan, bahkan tumbuhan yang seolah memiliki jiwa dan mampu
berbicara, memberi warna pada alur cerita.
Latar sebuah
dongeng tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Penulis bebas menciptakan dunia
di mana matahari bisa terbit dari barat, hujan turun berwarna pelangi, atau
hutan yang bisa bernyanyi. Semua itu hanya dibatasi oleh imajinasi penulisnya.
Di tangan yang
tepat, dongeng mampu membawa pembaca ke dalam perjalanan batin yang indah,
memberi makna, dan meninggalkan jejak yang tak mudah hilang — seperti obrolan
hangat di tepi perapian pada malam yang tenang, saat kisah mulai mengalir dan
dunia fantasi pun terbuka lebar.
Nisa tersenyum,
lalu mulai bercerita tentang seekor kelinci pemalu yang belajar berani
menyelamatkan temannya dari jebakan. Adiknya mendengar dengan mata berbinar,
seolah ia sendiri berada di dalam hutan bersama sang kelinci.
Sejak hari itu,
Nisa semakin rajin membuat dongeng. Ia tahu, lewat dongeng ia bisa:
- Menghibur, membuat
anak-anak tertawa dan berimajinasi.
- Mengajarkan
nilai kehidupan,
seperti keberanian, kejujuran, dan tolong-menolong.
- Melatih
pola pikir,
karena setiap konflik dan solusi dalam dongeng mengajak pembaca untuk
berpikir.
- Membentuk
karakter,
dengan menghadirkan tokoh-tokoh teladan yang menginspirasi.
Nisa tersenyum
setiap kali melihat adiknya menirukan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Ia merasa,
menulis dongeng itu seperti menyalakan api kecil di hati seseorang — api yang
bisa tumbuh menjadi cahaya penerang dalam hidupnya kelak
Tak lama, muncul
pesan dari narasumber hebat, Ibu Helwiyah, S.Pd., MM:
"Sahabat
penulis, dunia dongeng itu luas. Sama seperti taman bunga, setiap jenis dongeng
punya bentuk dan warnanya sendiri. Mari kita kenali satu per satu."
- FabelDongeng yang tokohnya adalah hewan, namun berperilaku seperti manusia — bisa berbicara, berpikir, dan merasakan. Fabel biasanya berisi pesan moral, seperti kisah Kancil dan Buaya yang mengajarkan kecerdikan.
- LegendaCerita rakyat yang berkaitan dengan asal-usul suatu tempat, benda, atau peristiwa. Misalnya Legenda Danau Toba atau Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu.
- Mite (Mitos)Dongeng yang berkaitan dengan kepercayaan atau hal-hal gaib, biasanya menceritakan dewa, roh, atau kekuatan supranatural. Contohnya kisah Dewi Sri dalam budaya Jawa.
- SageDongeng yang sering dianggap mengandung unsur sejarah, walau tidak semuanya terbukti benar. Sage biasanya menceritakan kepahlawanan, seperti kisah Si Pitung atau Hang Tuah.
- Farabel (Cerita Jenaka)Dongeng lucu yang menghibur sekaligus menyindir perilaku manusia. Tokoh seperti Pak Belalang atau Abunawas sering muncul di jenis dongeng ini.
5. Tips dalam membuat Dongeng
Karena berdongeng juga bisa meningkatkan imunitas
Menulis tanpa pena....
Menggambar tanpa sketsa....
Dalam sekejap tulisan
sudah bisa menjelma sesuai harapan kita....
Contoh dongeng kini sudah jadi,
Siap dibaca, hati pun terpukau terhanyut.
Menulis kisah di kala senja,
Cerita fabel penuh pesan bijak.
Dongeng indah menghibur semua,
Menuntun hati jadi lebih baik.
Comments