“Analisa Sistem SIF A: Banyak Diagram, Banyak Drama”

 “Analisa Sistem SIF A: Banyak Diagram, Banyak Drama”

Quiz Pertemuan ke 7

Jawaban yang sempurna adalah jawaban dari Putri Ines Salsabila berikut jawabannya yaitu menggunakan DFD level 0 dan Level 1 sebagai berikut: 








Quiz  Pertemuan ke 15 diadakan Secara lisan dan Tulisan

Pada pertemuan ke-15 suasana kelas terasa sedikit tegang namun penuh tawa. Satu per satu mahasiswa maju ke depan kelas untuk mengikuti quiz lisan. Mereka diminta menjelaskan tentang analisa sistem, metode analisa sistem, dan hasil yang diharapkan dari analisa sistem.


Mahasiswa pertama yang maju adalah Acce Venio Hasugian. Dengan nada tenang ia menjelaskan bahwa analisa sistem adalah proses mempelajari sistem yang sedang berjalan untuk menemukan masalah dan kebutuhan pengguna. Ia menambahkan bahwa wawancara dan observasi merupakan metode penting karena analis harus melihat langsung kenyataan di lapangan. Jawabannya runtut, dan kelas pun mengangguk setuju.


Berikutnya, Kamal Abrar Ramadhan melangkah maju dengan percaya diri. Ia menekankan bahwa analisa sistem merupakan dasar sebelum merancang sistem informasi baru. Ia menjelaskan bagaimana dokumen, arsip, dan kuesioner dapat menjadi sumber data penting. Menurutnya, hasil analisa yang baik akan membuat pekerjaan lebih efisien dan mengurangi kesalahan. Penyampaiannya singkat, jelas, dan tepat sasaran.


Kemudian giliran Maria Rachel Kesya Makarena. Ia menjelaskan analisa sistem dengan gaya yang sistematis. Maria menyebut bahwa dalam analisa sistem, komponen-komponen diuraikan, alur data dipetakan, dan hubungan antar bagian dipahami. Ia juga menyinggung pemodelan menggunakan DFD dan flowchart. Ia menutup jawabannya dengan menyebut bahwa hasil akhirnya adalah spesifikasi kebutuhan sistem baru yang siap dirancang.

Disusul oleh Muhammad Rivaldo Firdaus yang memberi contoh nyata pada proses administrasi. Ia mengatakan bahwa wawancara dengan pengguna utama sangat penting karena merekalah yang merasakan langsung masalah sistem. Rivaldo menyimpulkan bahwa hasil analisa harus berupa rekomendasi sistem baru, terutama berbasis komputer, sehingga pekerjaan lebih efektif.


Berikutnya, Putri Ines Salsabilla tampil dengan penjelasan yang rapi. Ia mengatakan bahwa analisa sistem pada dasarnya adalah mengevaluasi sistem lama untuk merancang sistem baru yang lebih baik. Ia menjelaskan peran diskusi dan brainstorming dengan stakeholder. Hasil akhirnya, menurutnya, adalah dokumen kebutuhan sistem yang menjadi panduan pengembang.


Rizky Nathaniel Lukas juga maju dengan penuh semangat. Ia menegaskan bahwa analisa sistem harus dilakukan sebelum proses pemrograman dimulai. Dengan menganalisis kebutuhan pengguna melalui use case, sistem yang dibangun akan lebih tepat sasaran. Ia juga mengaitkan manfaat analisa dengan penghematan biaya karena kesalahan sistem dapat diminimalkan sejak awal.


Reigan Chenartha menjelaskan bahwa analisa sistem merupakan proses mengkaji sistem yang sedang berjalan untuk menemukan permasalahan dan kebutuhan pengguna. Ia memaparkan metodologi pengembangan seperti Waterfall, Agile, dan Scrum, serta menekankan pentingnya pemilihan metode yang sesuai dengan karakteristik proyek.


Siraj Fatwa Sidqy menyampaikan bahwa analisa sistem melibatkan manusia, prosedur, dan data dalam suatu organisasi. Ia menjelaskan tahapan analisis kebutuhan dan teknik pengumpulan data, kemudian menguraikan perbedaan Waterfall yang bersifat sekuensial dengan Agile/Scrum yang iteratif dan fleksibel.


Yohana Citra Simamora maju dengan senyum tenang. Ia menjelaskan analisa sistem dengan bahasa yang sederhana namun menyeluruh. Menurutnya, gabungan wawancara dan observasi merupakan metode yang efektif untuk memahami sistem nyata. Ia menutup dengan kalimat bahwa analisa sistem diharapkan menghasilkan sistem yang efektif, efisien, cepat, dan akurat sehingga memudahkan pengguna.

Di akhir sesi, kelas terasa lebih hidup. Diskusi, tawa kecil, dan tepuk tangan ringan membuat quiz lisan terasa tidak seperti ujian, melainkan pengalaman belajar bersama.

Tugas Kelompok


Pada kelas Analisa Sistem SiF A, mahasiswa resmi dibagi menjadi beberapa kelompok. Bukan hanya kelompok biasa, tapi kelompok pejuang tugas akhir bab mini. Setiap kelompok punya judul yang terdengar sangat ilmiah, walaupun dibuatnya sambil rebahan.

Kelompok 1

( Maria Rachel Kesya Makarena – Devita – Anezza Nuraina )


Mereka mengambil judul Face Recognition.
Ini kelompok yang paling jujur: mereka tahu ada mahasiswa yang hobi pura-pura tidak dikenal ketika ditagih presentasi, jadi mereka buat sistem yang langsung mengenali wajah plus dosa-dosa akademik sebelumnya.

Kelompok 2 ( Firah Dazahabiyyah – Sahla Lutfiah Bilqis – Juwita Eriyanti )


Judulnya Sistem Informasi Manajemen UKM Mahasiswa.

Kelompok ini terbentuk dari orang-orang yang chat-nya aktif di grup UKM, tapi pas rapat suka hilang sinyal. Maka mereka buat sistem biar:data anggota rapi,kegiatan tercatat,alasan “ketiduran” tercatat resmi

Kelompok 3

( Yohana Citra Simamora – Bianca Sabina Yunas – Raira Salsabila )


Judulnya Sistem Informasi Manajemen Inventori.

Mereka paling siap jadi penjaga gudang nasional. Stok habis saja bisa langsung diketahui — beda dengan stok sabar ketika tugas menumpuk.

Kelompok 4

( Alicia Stifa Nur Sahra – Davina Intan Aurelya – Putri Ines Salsabilla )


Judulnya Marketplace Produk UMKM Mahasiswa.

Ini kelompok entrepreneur sejati. Tugas jalan…,jualan jalan…
Kelompok 5

( Dilo Elvonsyah – Saddam Raditya Kahfilo – Satria Muhammad Putra W )


Judulnya Sistem Informasi Absensi Mahasiswa.

Jelas terinspirasi pengalaman pribadi: datang on time itu niat, datang telat itu realistis

Mereka ingin sistem absensi yang tetap menerima, meskipun yang datang hanya raga — jiwa masih di kasur.

Kelompok 6

( Muhammad Rivaldo Firdaus – Acce Venio Hasugian )




Judulnya E-Commerce Stok Bahan Baku & Menu UMKM Kopi.

Kelompok ini hidupnya berkaitan dengan kafein.
Slogan tidak resminya:

“Jika tugas berat, seduh dulu. Jika tetap berat, seduh dua kali.”

Kelompok 7

( Kamal Abrar Ramadhan – Reigan Chenartha – Rizky Nathaniel Lukas )



Judulnya Sistem Informasi Pengelolaan Perpustakaan Mahasiswa.

Mereka paham fungsi perpustakaan: tempat cari jurnal,tempat cari referensi,dan tempat cari colokan listrik

Kelompok 8

( Cornelius Farrel Mahardika – Oktavianus Pradipta Wiratama Putra )


Judulnya Sistem Peminjaman Prasarana.

Mereka ingin menghapus kalimat paling legendaris di kampus:

“Pak, proyektornya ada… tapi kabelnya tidak tahu ke mana.”

Kelompok 9

( Aundrel Aza Sadira – Jasmine Alya )



Judulnya Sistem Informasi Manajemen Data Siswa.

Ini kelompok yang paling rapi dengan data…
kecuali data jadwal bimbingan, yang entah kenapa sering lupa.

Kelompok 10

( Siraj Fatwa Sidqy – Muhammad Fajar Rizkyulloh )

Judulnya E-Commerce Fashion Thrift.
Inilah penyelamat tanggal tua.
Baju bekas? Tidak masalah.
Yang penting pas foto wisuda tetap kelihatan mahal tapi hemat.

Ringkasan materi pertemuan ke sampai ke 15

Perkuliahan Analisa dan Perancangan Sistem dimulai pada pertemuan pertama dengan pengenalan mata kuliah, kontrak belajar, capaian pembelajaran, dan penjelasan pentingnya analisa sistem dalam pengembangan sistem informasi. Mahasiswa diperkenalkan pada gambaran umum materi yang akan dipelajari selama satu semester serta aturan kelas yang disepakati bersama. Suasana masih canggung, tetapi semangat terlihat jelas.


Pada pertemuan kedua, materi mengenai konsep dasar sistem dan informasi. Mahasiswa diajak memahami apa itu sistem, elemen sistem, karakteristik sistem, serta hubungan sistem dengan informasi di organisasi. Di sinilah mahasiswa mulai sadar bahwa “sistem” bukan hanya aplikasi, tetapi gabungan manusia, prosedur, data, perangkat keras, dan perangkat lunak.



Pertemuan ketiga berlanjut ke topik System Development Life Cycle (SDLC). Tahapan analisis, perancangan, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan dijelaskan. Mahasiswa memahami bahwa pengembangan sistem dilakukan secara terstruktur, tidak langsung lompat ke coding (meskipun kadang memang ingin).


Pada pertemuan keempat, pembahasan mengerucut pada analisa sistem.menjelaskan tujuan analisa, peran analis sistem, serta pentingnya memahami kebutuhan pengguna sebelum merancang solusi. Mahasiswa mulai dikenalkan pada pendekatan problem solving dalam organisasi.


Pertemuan kelima membahas teknik pengumpulan data: wawancara, observasi, kuesioner, dan studi dokumentasi. Mahasiswa berdiskusi tentang pengalaman “wawancara ala-ala” seperti wawancara ketua UKM, admin kampus, hingga penjaga kantin—karena semuanya ternyata termasuk bagian dari sistem.


Pada pertemuan keenam, mahasiswa mulai dikenalkan pada pemodelan sistem menggunakan diagram alir, DFD, atau UML. Mereka belajar bahwa gambar kotak, panah, dan lingkaran ternyata bisa menjadi alat komunikasi yang sangat serius di dunia kerja.

Pertemuan ketujuh diisi dengan tugas kelompok: penentuan topik proyek analisa sistem. Inilah momen lahirnya berbagai judul kerennya—mulai dari sistem koperasi, UKM kopi, perpustakaan, hingga marketplace UMKM mahasiswa. Diskusi kelompok mulai hidup, diselingi debat kecil tentang siapa jadi ketua.

Pada pertemuan kedelapan, mahasiswa mempresentasikan proposal awal sistem. Mereka menjelaskan latar belakang masalah, tujuan, ruang lingkup, dan manfaat sistem yang akan dirancang. Beberapa presentasi lancar, beberapa masih baca slide—semuanya tetap berproses.

Masuk pertemuan kesembilan, pembahasan fokus pada metodologi pengembangan sistem: Waterfall, Agile, dan Scrum. Mahasiswa berdiskusi mengenai perbedaan model sekuensial dan iteratif, Sprint, Product Owner, dan peran Scrum Master. Ada yang langsung berkata, “Oh… jadi selama ini kita hidup dalam model Agile, Pak.”

Pada pertemuan kesepuluh,  ada kuliah Umum digedung Teater













Pertemuan kesebelas diisi dengan pendalaman desain sistem: rancangan input-output, perancangan basis data sederhana, dan antarmuka pengguna. Mahasiswa mulai memikirkan tampilan sistemnya, walaupun sebagian masih berdebat soal warna tombol “login”.

Pada pertemuan kedua belas,Pada pertemuan kedua belas, mahasiswa melanjutkan pengerjaan proyek kelompok dan melakukan konsultasi langsung dengan dosen. Mereka memaparkan kemajuan dokumen analisis, alur proses, dan diagram yang telah dibuat. Banyak yang revisi—itu wajar, tandanya serius.

Pertemuan ketiga belas biasanya diisi presentasi kemajuan proyek. Setiap kelompok menyampaikan hasil analisa sistem, metode yang digunakan, serta rancangan alur sistem usulan. Diskusi kelas menjadi interaktif karena teman-teman lain ikut memberi masukan.

Pada pertemuan keempat belas, dilakukan review materi dan persiapan evaluasi. Mahasiswa menanyakan poin-poin yang belum dipahami, terutama mengenai analisa kebutuhan dan pemodelan sistem. Ini adalah sesi “klarifikasi besar-besaran” sebelum evaluasi akhir.









Akhirnya, tibalah pertemuan kelima belas. Pada pertemuan ini dilaksanakan quiz lisan dan tulisan. Beberapa mahasiswa maju ke depan kelas menjelaskan materi seperti analisa sistem, metodologi Waterfall, Agile, dan Scrum. Suasananya campur aduk: tegang, lucu, dan penuh tepuk tangan. Quiz berjalan lancar, mahasiswa menunjukkan keberanian, dan perkuliahan semester ini ditutup dengan cerita, tawa, dan banyak pengalaman berharga.

Pantun

Naik perahu ke seberang muara,
Ombak datang bergulung-gulung.
Rajin kuliah rajin berkarya,
Kelak jadi orang hebat yang dikenang sepanjang waktu.

Pergi ke kampus bawa pena,
Di jalan mampir beli pepaya.
Terus belajar jangan menyerah ya,
Sukses besar sudah menunggu di depan sana.






Comments

Popular posts from this blog

Teknik Menulis Resume yang Benar

Resume Pertemuan ke 4 : Gali Potensi Ukir Prestasi

Seru, Pintar, dan Penuh Sensasi : Presentasi Kelompok Kelas A Pengantar Teknologi Informasi