"Guru SD Gaji 1,6 Miliar Setahun, Di Negara Mimpi dapat 2 M “ Makasih Makasih”
"Guru SD Gaji 1,6 Miliar Setahun, Di Negara Mimpi dapat 2 M “ Makasih Makasih”
Nama saya Cristina Susilowati, dan di usia 27 tahun ini, saya mengajar di Luksemburg dengan gaji sebesar 1,6 miliar rupiah per tahun—sebuah angka yang bikin orang ternganga, terutama buat saya yang dulu cuma berlarian di jalanan berdebu di Jawa.
Angin
musim dingin di Luksemburg agak menusuk, tapi kehangatan di kelas 3 SD tempat
saya mengajar langsung bikin segala rasa dingin itu hilang. Lihat anak-anak
bermata biru, cokelat, dan hijau yang manggil saya “Madame Cristina” dengan
aksen Prancis-Jerman, rasanya seperti mimpi yang jauh banget buat seorang gadis
yang dulu cuma bisa lihat dunia dari balik jendela rumah sederhana di
Indonesia.
Banyak
orang ngeliat angka 1,6 miliar itu dan langsung bilang, “Enak banget, Cris!
Kerja santai, gaji tinggi.”
Tapi,
mereka nggak tahu gimana rasanya tidur cuma 4 jam sehari, nangis sendirian di
apartemen kecil waktu pertama kali datang ke Eropa, dan ngerasain betapa
susahnya hidup di negara orang.
Perjalanan
saya sampai di titik ini bukan tanpa perjuangan. Luksemburg, buat orang asing
kayak saya, bukanlah tempat yang gampang diterima. Untuk jadi guru SD di sini,
nggak cukup cuma bisa bahasa Inggris. Harus bisa tiga bahasa: Prancis, Jerman,
dan Luksemburgish.
Tiga
tahun pertama itu rasanya kayak neraka.
Saya
inget banget, ditolak dari sekolah-sekolah berkali-kali. “Kualifikasi Anda
belum cukup,” kata mereka. Sambil berjuang nyusun ijazah dan sertifikasi yang
susah banget, saya kerja serabutan. Dari babysitter sampai pelayan restoran
yang kaki saya bengkak setiap malamnya.
Saya
tidur cuma 4 jam sehari, sisanya? Belajar bahasa Jerman sampai pusing, sambil
ngunyah roti yang harganya bikin kantong mahasiswa perantauan kayak saya
terkuras. Ada masa saya hampir menyerah, mikir buat pulang aja ke Indonesia,
makan nasi goreng, dan lupakan semua ambisi ini.
Tapi
Tuhan itu nggak pernah ngecewain kita. Usaha pasti ada hasilnya.
Ketika
surat penerimaan itu datang, tangan saya gemetar. Saya resmi jadi guru di
sistem pendidikan negara dengan gaji tertinggi di dunia. Saat slip gaji pertama
turun, saya nggak langsung teriak senang. Justru saya terdiam.
Saya
liat angka itu, dan tiba-tiba air mata saya jatuh. Bukan karena bahagia, tapi
karena rasa bersalah yang tiba-tiba datang.
Pikiran
saya langsung melayang ke Indonesia.
Saya
inget Pak Budi, guru honorer di SD. Gajinya mungkin cuma 300 ribu atau 500 ribu
rupiah sebulan, dibayar tiga bulan sekali. Sepedanya sering rusak, tapi dia
selalu semangat ngajar.
Terus
saya inget teman-teman kuliah saya di Indonesia. Mereka itu pintar, penuh
semangat, dan bener-bener cinta sama anak-anak. Tapi sekarang? Mereka harus
nyambi jualan pulsa, jadi ojek online, atau buka jasa ketik skripsi buat
nyambung hidup. Gaji mereka jauh dari kata cukup, seringkali lebih rendah dari
uang jajan anak-anak yang mereka ajar.
Di
Luksemburg, guru itu dihormati banget, setara sama hakim atau dokter spesialis.
Pemerintah di sini ngerti banget kalau mau negara maju, ya harus ngajarin
orang-orang yang akan ngebentuk masa depan itu. Makanya, mereka nggak
segan-segan bayar kami dengan gaji miliaran per tahun.
Tapi
di Indonesia?
Hati
saya rasanya sakit setiap kali denger guru-guru di daerah terpencil yang harus
nyebrang sungai deras cuma buat ngajar, tapi gajinya cuma cukup buat beli beras
seminggu.
Gaji
1,6 miliar ini emang bikin hidup saya berubah. Bisa kirim uang buat orang tua,
renovasi rumah di kampung, dan jalan-jalan keliling Eropa. Tapi di lubuk hati
saya, ada doa yang selalu saya panjatkan.
Saya
berharap suatu hari Indonesia bisa ngeliat guru-gurunya kayak Luksemburg
ngeliat kami. Bukan cuma dipuji-puji dengan slogan "Pahlawan", tapi
hidupnya dimuliakan, kebutuhannya tercukupi, dan keringatnya dihargai.
Karena
saya tahu, di luar sana ada ribuan "Cristina" lain yang kerja keras
di ruang kelas yang panas dan bocor, dengan perut yang mungkin setengah lapar,
tapi tetap semangat demi anak-anak bangsa. Mereka pantas dapet lebih 2 M, Makasih Makasih
Comments