“Cerita Kelas AnSis: Dari Awal Kenalan sampai Jago Analisis” - Ansis SIF B -

 “Cerita Kelas AnSis: Dari Awal Kenalan sampai Jago Analisis”

Quiz Pertemuan ke 7

Jawaban yang sempurna adalah jawaban dari Putri Ines Salsabila diambil dari kelas sebelah berikut jawaban yaitu menggunakan DFD level 0 dan Level 1 sebagai berikut:








Quiz  Pertemuan ke 15 diadakan Secara lisan dan Tulisan

Nilai Quiz


1. Abid Ramadhan Rachmat – 90

Abid maju dengan kalem namun jelas. Ia menjelaskan bahwa analisa sistem merupakan proses

`


mempelajari sistem yang berjalan untuk menemukan masalah dan menentukan kebutuhan perbaikan. Ia menegaskan bahwa tujuan akhirnya adalah sistem yang lebih tertata dan efisien.

2. Adie Suryo Syaputro – 90


Adie memulai dengan contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa metode analisa bisa berupa wawancara, observasi, dan kuesioner. Cara penyampaiannya santai tapi substansi materi tersampaikan dengan baik.

3. Evan Alfiansyah – 93


Evan menyampaikan langkah-langkah analisa sistem secara sistematis. Ia menjelaskan mulai dari identifikasi masalah hingga rekomendasi solusi. Evan juga menekankan pentingnya memahami kebutuhan pengguna sebelum merancang sistem.

4. Mada Kaila Mulya – 94


Mada tampil percaya diri. Ia menyampaikan bahwa analisa sistem tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga proses bisnis, data, dan manusia yang terlibat. Ia menjelaskan bahwa hasil analisa menjadi dasar pengambilan keputusan organisasi.

5. Muhammad Rayhan – 92


Rayhan memberikan contoh nyata dari sistem akademik kampus. Ia menjelaskan bagaimana analisa sistem dapat memperbaiki proses KRS dan presensi online. Jawabannya kontekstual dan mudah dipahami.

6. Muhammad Rifadh Athallah – 91


Rifadh menekankan bahwa analis sistem harus pandai mendengar kebutuhan user. Ia menjelaskan bahwa hasil analisa yang baik bukan yang paling rumit, tetapi yang paling sesuai kebutuhan. Penyampaiannya runtut dan logis.

7. Mutiara Fitria Azzahra – 95


Mutiara menjelaskan konsep analisa sistem dengan bahasa yang komunikatif. Ia menyoroti pentingnya dokumentasi hasil analisis. Ia juga menjelaskan bahwa analisa sistem membantu mengurangi kesalahan dan meningkatkan kualitas layanan.

8. Ramadhan Alvito Alfian – 96


Ramadhan memaparkan manfaat analisa sistem dari sisi manajerial. Ia menjelaskan bahwa analisa sistem membantu penghematan biaya, waktu, dan sumber daya. Ia juga menekankan pentingnya studi kelayakan sebelum implementasi sistem.

9. Tegar Surya Christy – 97


Tegar menjelaskan alur analisa sistem langkah demi langkah, dari identifikasi masalah hingga evaluasi solusi. Gaya penjelasannya sistematis sehingga mudah diikuti. Ia menunjukkan pemahaman teori dan praktik sekaligus.

10. Nathasa Rowen Frederika Abarua – 92


Nathasa tampil lugas dan percaya diri. Ia menjelaskan bahwa analisa sistem bertujuan memastikan sistem yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan pengguna. Ia membahas metode analisa seperti wawancara dan observasi, serta menekankan bahwa hasil analisa yang baik akan menghasilkan sistem yang lebih efektif, efisien, dan mudah digunakan.

11 Fajar Affandi -92


Menjadi salah satu penampil ujian lisan yang penampilannya benar-benar sulit dilupakan. Ia maju dengan percaya diri, tidak terburu-buru, dan terlihat siap dengan materi yang sudah dipelajarinya. Cara bicaranya jelas, tersusun, dan tidak sekadar membaca definisi yang dihafal.Fajar menjelaskan bahwa analisa sistem adalah suatu proses untuk mempelajari, memahami, dan mengevaluasi sistem yang sedang berjalan dengan tujuan menemukan masalah, kebutuhan, serta peluang perbaikan. Ia menambahkan bahwa analisa sistem mencakup penguraian sistem menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah dipahami hubungan antar komponennya. 

Tugas Kelompok

Pada mata kuliah Analisis dan Perancangan Sistem SIF B, mahasiswa dibagi ke dalam sembilan kelompok. Setiap kelompok diminta memilih topik proyek sistem informasi yang tidak hanya menarik secara akademik, tetapi juga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Suasana kelas menjadi hidup — ada yang santai, ada yang serius seperti tim startup, dan ada juga yang sibuk mencari ide sambil menatap luar jendela mencari inspirasi.

Kelompok 1 beranggotakan Ramadhan Alvito Alfian, Nathasa Rowen, dan Rosa Putri Almaira.


Mereka memilih judul “Pengembangan Aplikasi Berbasis Web untuk Body Shape Identification dan Personal Fashion Guidance”. Kelompok ini berangkat dari keresahan sederhana: sering bingung memilih pakaian yang cocok. Mereka merancang aplikasi yang mampu mengenali bentuk tubuh pengguna lalu memberikan rekomendasi gaya berpakaian yang sesuai. Intinya, bukan hanya aplikasi—tapi juga “teman curhat fashion”.

Kelompok 2 terdiri dari Muhammad Arsya Alysyawardhanu, Virdan Dhani Ramadhan, dan Satrio Hutama Maiza. Mereka mengusung tema Smart Parking Finder. Sistem ini dirancang sebagai aplikasi mobile yang membantu pengendara mencari lahan parkir kosong. Dengan ide ini, mereka berharap para pengendara tidak lagi berputar-putar seperti kebingungan mencari jodoh, cukup buka aplikasi dan langsung diarahkan ke lokasi parkir tersedia.

Kelompok 3 yang beranggotakan Muhammad Rifadh, Muhammad Rayhan, dan Mustafa Hagi Eka


memilih judul “Perancangan Sistem Informasi Iuran Warga untuk Meningkatkan Transparansi dan Efisiensi”. Mereka melihat permasalahan klasik: iuran warga sering menimbulkan tanda tanya besar—“dananya ke mana?”. Sistem yang mereka rancang bertujuan membuat pencatatan keuangan RT/RW menjadi rapi, transparan, dan bisa diakses warga secara digital.

Berikutnya Kelompok 4, terdiri dari Mada Kaila Mulya, Mutiara Fitria Azzahra, dan Evan Alfiansyah. Mereka mengambil topik “Sistem Pengajuan Proposal Makrab Prodi”.


 Sistem ini bertujuan mendigitalisasi proses administrasi yang selama ini penuh tanda tangan, map, dan pengantar ruangan ke ruangan. Dengan sistem ini, proposal bisa diajukan, diverifikasi, dan disetujui secara online—lebih cepat, lebih hemat kertas, dan tentu lebih ramah mahasiswa.

Kelompok 5 berisi Jhon Calvin, Leonardo, dan Muhammad Danar Tri

Mereka merancang Sistem Informasi Kendali Perangkat Rumah Pintar. Mereka membayangkan rumah yang lampunya bisa dikendalikan dari ponsel, kipas bisa dihidupkan dari luar kota, dan keamanan rumah bisa dipantau dari mana saja. Konsep smart home ini diharapkan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penggunanya.

Kemudian ada Kelompok 6, yang dihuni oleh Tegar Surya Christy, Dhea Mettana Kian Q, dan Callysta Aurellia. Mereka memilih judul “Sistem Donasi Online Mahasiswa ala Kitabisa.com”. Sistem ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berdonasi secara online demi mendukung berbagai kegiatan sosial kampus. Jadi, mahasiswa bukan hanya kuliah dan tugas—tetapi juga peduli sesama.

Kelompok 7 beranggotakan Andi Muhammad Nauval, Fajar Affandi, dan Raihan Dimas Suyitno. Mereka membuat konsep Aplikasi Bank Sampah Online. Ide ini lahir dari kepedulian lingkungan. Sampah tidak hanya dibuang, tapi bisa ditukar menjadi poin atau nilai tabungan. Selain mengurangi sampah, masyarakat pun terdorong untuk memilah dan mengelola sampah dengan lebih bijak.

Kelompok 8 terdiri dari Adie Suryo Syaputro, Muhammad Ugi Albar, dan Abid Ramadhan. Mereka merancang Sistem Monitoring Progress Pembangunan Berbasis Multimedia. Dalam sistem ini, progres suatu proyek bisa dipantau melalui foto, video, dan laporan digital. Jadi tidak ada lagi laporan “sudah 80% kok”, padahal di lapangan masih terlihat seperti 30%—semuanya dibuktikan secara visual.

Terakhir, Kelompok 9 berisi Mikael Damian Fau, Althaffayiz Syafiq, dan Barry Caesar Satrio Himalaya Jamallulail. Mereka memilih judul “Aplikasi Bengkel Berjalan”. Sistem ini membantu pengguna kendaraan memanggil mekanik langsung ke lokasi ketika kendaraan tiba-tiba mogok. Bagi yang pernah dorong motor jauh-jauh, aplikasi ini terasa seperti pahlawan tanpa jubah.

Pada akhirnya, seluruh kelompok memiliki satu tujuan yang sama:
mengubah ide menjadi sistem informasi yang memberi manfaat nyata.
Ada yang fokus pada lingkungan, ada yang pada transportasi, ada yang pada sosial, dan ada pula yang pada gaya hidup.

Dan yang paling penting, semuanya dikerjakan dengan kerja sama tim, sedikit kebingungan, diskusi panjang, serta tawa khas mahasiswa yang sedang berproses.

Ringkasan materi pertemuan ke sampai ke 15

Pada pertemuan pertama, mahasiswa mulai berkenalan dengan mata kuliah Analisis dan Perancangan Sistem. Di sinilah mereka pertama kali diajak memahami apa itu sistem, apa itu informasi, dan mengapa keduanya jika digabung menjadi sistem informasi bisa menjadi sesuatu yang sangat penting bagi organisasi. Mahasiswa mulai melihat gambaran besar: sebuah sistem tidak sekadar program komputer, tetapi melibatkan manusia, proses, dan teknologi yang saling terkait.




Memasuki pertemuan kedua, pembahasan bergerak ke dunia organisasi. Mahasiswa diajak melihat bahwa setiap organisasi memiliki bentuk, struktur, dan budaya yang berbeda. Ada level manajemen dari bawah sampai atas, masing-masing membutuhkan informasi yang berbeda pula. Dari sini mahasiswa mulai menyadari bahwa merancang sistem tidak bisa sembarangan; sistem harus cocok dengan karakter organisasi yang akan menggunakannya.


Pada pertemuan ketiga, mahasiswa diperkenalkan dengan studi kelayakan. Mereka belajar bahwa sebelum suatu sistem dibangun, terlebih dahulu harus dinilai, apakah sistem tersebut memang layak secara biaya, waktu, teknis, dan manfaat. Di sinilah mahasiswa menyadari bahwa tidak semua ide hebat harus langsung dibuat—ada kalanya ide harus ditunda atau bahkan dihentikan jika tidak layak untuk dijalankan.

Ketika masuk pertemuan keempat, kegiatan pembelajaran mulai terasa “mendekati dunia nyata”. Mahasiswa mempelajari teknik pengumpulan data: bagaimana mewawancarai pengguna, melakukan observasi di lapangan, membuat kuesioner, hingga mengikuti diskusi terstruktur. Mereka dilatih untuk tidak hanya duduk di depan komputer, tetapi juga turun langsung memahami masalah sesungguhnya.


Pada pertemuan kelima, mahasiswa mulai berhadapan dengan diagram alir data. Mereka belajar menggambarkan bagaimana data bergerak dari satu proses ke proses lain dalam sistem. Walaupun awalnya terlihat rumit, lama-kelamaan mahasiswa memahami bahwa diagram ini sebenarnya membantu mereka melihat keseluruhan sistem secara lebih jelas.

Lalu di pertemuan keenam, mereka diajak menyusun kamus data. Setiap data, istilah, dan elemen yang digunakan dalam sistem tidak boleh dibiarkan mengambang tanpa definisi. Semua harus terdokumentasi. Di sini mahasiswa belajar disiplin, karena seorang analis sistem tidak hanya berpikir, tetapi juga harus menuliskan dan mendefinisikan dengan rapi.

Pada pertemuan ketujuh, perhatian beralih ke rancangan input dan output. Mahasiswa menyadari bahwa tampilan yang dilihat pengguna sangat menentukan kenyamanan mereka dalam memakai sistem. Mereka belajar merancang form masukan, tampilan layar, dan laporan sehingga mudah dipahami, tidak membingungkan, dan tetap fungsional.

Kemudian tibalah pertemuan kedelapan, saat dilaksanakannya Ujian Tengah Semester. Inilah momen evaluasi pertama, ketika pemahaman mahasiswa mengenai materi dari pertemuan awal benar-benar diuji. Selain menjawab soal, mahasiswa juga secara tidak langsung menilai dirinya sendiri: sejauh mana mereka sudah memahami analisis dan perancangan sistem.

Setelah UTS, pertemuan kesembilan membahas perancangan proses dan database. Mahasiswa mulai merancang tabel, memahami normalisasi, serta menyusun relasi antar data. Mereka belajar bahwa penyimpanan data yang salah akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari, sehingga perancangan database harus direncanakan dengan matang sejak awal.

Di pertemuan kesepuluh, Mengikuti Kuliah umum di Gedung Teater















Pada pertemuan kesebelas, perhatian diberikan pada prosedur entri data. Mahasiswa mempelajari bagaimana cara mencegah kesalahan input, bagaimana membuat kode data, dan bagaimana melakukan validasi sehingga data yang masuk benar dan tidak merusak sistem. Di sinilah mereka memahami pepatah “garbage in, garbage out”: jika data masuk salah, hasilnya pasti salah.

Mulai pertemuan kedua belas hingga empat belas, kegiatan semakin terasa hidup karena mahasiswa mulai mengerjakan studi kasus. Mereka menganalisis permasalahan nyata, membentuk kelompok, mengumpulkan data, membuat model sistem, merancang database, hingga menyusun usulan sistem baru. Diskusi, tanya jawab, dan presentasi mewarnai proses pembelajaran pada tahap ini.

Akhirnya sampai pada pertemuan kelima belas, mahasiswa melakukan evaluasi akhir pembelajaran. Ada yang mempresentasikan hasil analisis, ada yang menyempurnakan proyek kelompok, dan ada pula yang mengikuti quiz lisan. Pada pertemuan ini, mereka melihat kembali perjalanan panjang dari pertemuan pertama—bagaimana awalnya hanya mengenal istilah sistem, hingga akhirnya mampu menganalisis dan merancang sistem informasi secara utuh.









Seluruh rangkaian lima belas pertemuan ini membentuk satu cerita besar: mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar berpikir terstruktur, bekerja dalam tim, dan merancang solusi nyata bagi permasalahan organisasi melalui sistem informasi.

Pantun

Belajar malam ditemani kopi,
Sesekali mata ingin terpejam.
Ilmu dicari dengan hati,
Kelak gelar diraih dengan senyum terbayang.

Pagi-pagi masuk kuliah,
Meski hujan turun gerimis rintik.
Mahasiswa rajin pantang menyerah,
Masa depan cerah sudah menitik.

Ke laut lepas nelayan berlayar,
Ombak besar tetap dihadapi.
Siapa yang sabar dan giat belajar,
Dialah yang akan tinggi prestasi.



Comments

Popular posts from this blog

Teknik Menulis Resume yang Benar

Resume Pertemuan ke 4 : Gali Potensi Ukir Prestasi

Seru, Pintar, dan Penuh Sensasi : Presentasi Kelompok Kelas A Pengantar Teknologi Informasi