Menjadikan Menulis sebagai Passion

 


Judul                  :  Menjadikan Menulis sebagai Passion

Penyusun            : Safrizal

Resume ke         :2

Gelombang        : 33

Hari/ Tanggal     : Jumat, 8 Agustus 2025

Tema                  : Menjadikan Menulis sebagai Passion

Narasumber       : Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.

Moderator          : Lely Suryani S.Pd.SD

 

Judul: Menjadikan Menulis sebagai Passion

Di sebuah pagi yang tenang, Raka duduk termenung di depan laptopnya. Sudah lama ia ingin menulis, tapi selalu ada saja alasan untuk menunda. “Aku nggak punya ide... Aku nggak cukup bagus... Nanti dulu aja deh,” katanya dalam hati. Namun hari itu berbeda. Ia baru saja mengikuti sebuah kelas menulis bersama Ibu Sri Sugiastuti, seorang penulis dan pendidik yang penuh semangat.

Dalam kelas itu, Ibu Sri berkata,

“Menulis itu bukan hanya hobi, tapi bisa menjadi passion. Ia adalah suara hati yang ingin disampaikan kepada dunia.”

Kata-kata itu menggetarkan hati Raka. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:

  • Apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan lewat tulisan?
  • Masalah apa yang ingin aku bantu selesaikan?
  • Siapa yang ingin aku bantu lewat kata-kata?

Hari demi hari, Raka mencoba menulis apapun yang terlintas. Cerita fiksi, catatan harian, puisi, bahkan ulasan film. Ia tidak takut salah lagi. Ia mulai paham bahwa passion sering ditemukan lewat eksplorasi.

Tak butuh naskah besar dulu. Ia mulai dari cerita pendek dan jurnal harian.
“Yang penting mulai saja dulu,” ujar Ibu Sri dalam sesi berikutnya.
“Tulis untuk dirimu sendiri terlebih dahulu, bukan untuk dunia.”

Namun menulis bukan hal mudah. Ada hari-hari Raka malas, bosan, bahkan bingung harus menulis apa. Tapi Ibu Sri berpesan,

“Komitmen adalah kunci. Passion tanpa komitmen hanyalah semangat sesaat.”

Raka mulai menjadwalkan waktu menulis. Setiap pagi selama 30 menit, ia duduk menulis meski hanya beberapa paragraf. Ia menciptakan ruang khusus di pojok kamarnya: rapi, tenang, dan penuh catatan motivasi.

Ia pun mulai menetapkan target:

  • Hari ini 500 kata,
  • Minggu ini satu cerita,
  • Enam bulan lagi: satu buku.

Ketika mengalami writer’s block, Raka tidak menyerah. Ia menulis bebas, membaca genre yang berbeda, bahkan berjalan di taman untuk mencari inspirasi. Ia belajar bahwa tulisan pertama tak perlu sempurna. Yang penting: tuliskan dulu, edit belakangan.

Suatu hari, ia memberanikan diri membagikan tulisannya ke komunitas. Ia menerima kritik—beberapa tajam, tapi banyak yang membangun. Ia belajar memilah mana yang membantu dan mana yang harus diabaikan.

“Menulis itu seperti bertualang,” kata Ibu Sri.

“Kita belajar, jatuh, bangun, dan terus berkembang.”

Semangat Raka terus tumbuh. Ia mulai mengunggah tulisannya di blog, berbagi di media sosial, dan membangun portofolio. Ia bergabung dengan komunitas penulis dan bertukar ide dengan sesama pejuang kata.

Lalu, ia membaca kisah Tere Liye dan J.K. Rowling. Keduanya memulai dari titik rendah, tapi karena passion dan komitmen, mereka kini menjadi panutan. Raka pun yakin: “Aku juga bisa.”

Selama 21 hari, Raka membangun kebiasaan menulis.

  • Minggu pertama: menemukan alasan dan eksplorasi genre.
  • Minggu kedua: membentuk rutinitas dan menciptakan lingkungan yang mendukung.
  • Minggu ketiga: menghadapi tantangan, menyunting tulisan, dan terus berkarya.

Kini, menulis bukan lagi sekadar keinginan bagi Raka. Ia telah menjadikannya bagian dari hidup.

Karena seperti pesan terakhir Ibu Sri:
“Passion membuatmu memulai. Komitmen membuatmu bertahan. Dan produktivitas adalah hasilnya.”

Comments

Lucky Susiasih said…
Selamat pak...sdh jadi pemenang materi 2
Wijaya kusumah said…
sebuah awal yg bagus, semoga menjadi kebiasaan yang baik dan menemukan passion dalam menulis

Popular posts from this blog

Teknik Menulis Resume yang Benar

Resume Pertemuan ke 4 : Gali Potensi Ukir Prestasi

Seru, Pintar, dan Penuh Sensasi : Presentasi Kelompok Kelas A Pengantar Teknologi Informasi