Resume Pertemuan ke 1 - Menulis dengan hati dan bersahabat dengan teknologi
Resume
Pertemuan ke 1
Menulis
dengan hati dan bersahabat dengan teknologi
Judul : Menulis Setiap Hari Dengan Kecerdasan Bantuan
Penyusun
: Safrizal
Resume
ke : 1
Gelombang :
33
Hari/ Tanggal : Rabu, 6
Agustus 2025
Tema
: Semangat Menulis Setiap Hari dibantu dengan Kecerdasan
Bantuan
Narasumber :
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Moderator :
Helwiyah, S.Pd., M.M.
Menulis Setiap Hari dengan Kecerdasan Buatan
Resumenya adalah
AI digunakan sebagai
“Gunakan AI
sebagai asisten, bukan sebagai pengganti. Ide tetap dari Anda. Pengalaman tetap
dari Anda. Sentuhan hati tetap dari Anda. AI hanya membantu merapikan.”
AI bisa
dimanfaatkan untuk:
- Mencari
ide awal menulis
- Menyusun
kerangka tulisan
- Memberikan
saran perbaikan tata bahasa
- Meningkatkan
produktivitas menulis harian
Gunakan Platform Ai Seperti ChatGPT, Copilot,
Deepseek, Claude, Gemini, dan lainnya—namun tetap dengan kendali penuh dari
penulis.
AI tidak punya rasa. Guru punya. Dan rasa
itulah yang membuat tulisan kita berbeda. AI tidak punya otak dan manusia punya
otak. Tulisan guru adalah tulisan kehidupan.
Pertemuan ke 1 ini dimoderatori oleh moderator yang
sangat keren dan piawai yaitu Ibu Ewi lulusan KBMN gelombang ke 20 dengan
memperoleh kelulusan dengan membuat buku Solo Kumpulan Puisi Pembukaan diawali
dengan memberi pantun yang membuat hati ini menjadi gembira ria, pantun yang
disampaikan adalah seperti dibawah ini.
Goresan tanpa pena....
Gambar tanpa sketsa
Karya tanpa jeda ....
Wow keren kan
pantunya yang mempunya arti dan makna yang dalam
Dan pesan
moderator supaya nda bete siapin cemilan kripik or gorengan , ditemenin
kopi atau teh manis panas pasti
lebih jreeng
Wow keren kan
pantunya yang mempunya arti dan makna yang dalam
Sedangkan
nara sumbernya yaitu Dr. Wijaya Kusumah., Mpd.
Dikenal dengan Om Jay.
Materi yang disampakan Om
jay adalah sebagai berikut:
1.
Pertama Omjay ucapkan terima aksih kepada
kawan-kawan tim solid Omjay (TSO) yang sudah menyiapkan kelas belajar menulis
nusantara (KBMN) PGRI ini dengan sangat baik, sehingga kita bisa bertemu
kembali di KBMN PGRI gelombang 33.
2.
Kedua ingin Omjay sampaikan bahwa materi
kita adalah menulis setiap hari dengan bantuan kecerdasan buatan. Jadi tidak
ada alasan lagi bapak ibu tidak bisa menulis, sebab pekerjaan menulis saat ini
bukan pekerjaan susah, tetapi sangat mudah. Hal yang membuat susah adalah
karena kita belum tahu caranya
3.
Ketiga, saat ini menulis itu sangat mudah
sekali. Dengan bantaun kecerdasan buatan, maka dengan mudah kita dapat menulis
hanya hitungan detik saja. Contohnya, buatkan artikel tentang Kisah Omjay guru
blogger Indonesia di chatgpt.com, maka hanya dalam waktu hitungan detik saja,
kisah Omjay sudah tersaji dengan sangat lengkap
4.
Keempat, adanya kecerdasan buatan membuat
pekerjaan menulis yang tadinya sulit menjadi mudah. Namun demikian, kecerdasan
buatan atau akal imitasi tidak punya otak, mereka menulis sesuai permintaan
orang yang menyuruhnya. Otaknya ada pada manusia yang memerintahkan ai untuk
menulis apa yg mereka inginkan. Jadi ai itu bisa dilatih oleh manusia dengan
cara memebrikan perintah yang tepat
5.
Kelima, menulis setiap hari dapat kita
lakukan dengan menggunakan alat bantu yang bernama kecerdasan buatan. Banyak
aplikasi kecerdasan buatan yang banyak dipakai orang di dunia yaitu: Chatgpt,
meta ai, copilot, deepsek, gemini dan lain-lain. Kita bisa memilih aplikasi
sesuai dengan pilihan masing-masing. Aplikasi kecerdasan buatan yang paling
banyak digunakan adalah chatgpt.com dan meta ai di whatsapp
6.
Keenam, Menulis dengan bantuan kecerdasan
buatan itu sangat mudah, namun kita perlu memiliki ketermapilan tambahan yaitu
membaca cepat yang dalam bahasa inggris disebut speed reading
7.
Ketujuh, Jadi seorang penulis profesional,
saat ini sdh menggunakan aplikasi kecerdasan buatan. Jangan heran bila mereka
mampu menulis buku hanya sehari saja, contoh buku 90 hari remisi diabets yang
dapat dituliskan hanya dalam waktu sehari saja.
8.
Kedelapan,Dahulu, omjay perlu waktu lama
untuk bisa menerbitkan sebuah buku. Dengan bantuan kecerdasan buatan berbayar,
menulis buku menjadi sangat mudah sekali. Awalnya Omjay tidak percaya ada
penulis buku yang bisa menulis buku dalam sehari. Sekarang Omjay sangat
percaya, apalagi bila aplikasi kecerdasan buatan yang dipakar berlangganan
Adapun dari paparan
materi ini diperoleh diskusi 9 pertanyaan dari 8 orang penanya, penanya yaitu Ibu
Lusi dari pekalongaan, Bapak Dede Awaludin Majalengka Jawa barat,Ibu Fatimah
dari Bogor, Ibu Nur dari Tangerang, Ibu Dyah Bandung,Ibu Yanti dari Tangerang,
Pa Sukarno dari Makassar dan ibu dari Dwi dari Depok
Adapun
pertanyaan pertanyaan dan jawaban adalah sebagai berikut
1.
Pertanyaan
pertama dari ibu Lusi Dari pekalongan adalah sebagai berikut:
Apa kalau menggunakan chatgpt tdk
terlihat plagiat?
Jawab
Agar aman dan terhindar dari plagiat,
sebaiknya:
1. Gunakan ChatGPT sebagai alat bantu,
bukan penulis utama.
2. Ubah dengan gaya bahasa sendiri, dan
tambahkan pengalaman atau sudut pandang pribadi.
3. Periksa hasil tulisandengan aplikasi
pendeteksi plagiarisme jika perlu (seperti Turnitin atau Grammarly).
4. Cantumkan
sumber jika menyertakan kutipan, data, atau referensi yang berasal dari luar.
Jadi, ChatGPT
bukan alat plagiat, tapi kita tetap perlu bertanggung jawab saat menggunakannya.
2.
Pertanyaan
ke 2 dari Bapak Dede Awaludin Majalengka
Buat
buku atau artikel pakai AI itu tidak menyalahi aturan, soalnya saya masih di
rongrong ketakutan ada apa?
Jawab
Menggunakan AI seperti ChatGPT untuk
membantu menulis buku atau artikel itu *tidak menyalahi aturan, selama kita
tetap menjunjung tinggi etika dan kejujuran dalam berkarya
AI hanyalah alat
bantu, seperti halnya kamus, mesin ketik, atau Google. Kita tetap harus
berpikir kritis, menyusun ide, dan menambahkan sentuhan pribadi agar tulisan
itu mencerminkan karakter kita sebagai penulis.
Yang penting, hindari *menjiplak
mentah-mentah* hasil AI tanpa dipahami atau diolah ulang. Jika perlu, sebutkan
saja bahwa kita dibantu teknologi untuk menyusun kerangka, mencari inspirasi,
atau mempercepat proses menulis. Sama halnya seperti penulis yang dibantu
editor atau proofreader.
Bagaimana menyiasatinya?
1. Gunakan AI untuk mencari ide,
menyusun struktur, atau menyempurnakan bahasa.
2. Tambahkan pengalaman pribadi,
refleksi, atau pendapat agar tulisan terasa hidup.
3. Baca ulang dan revisi hasilnya
agar sesuai dengan gaya dan niat kita.
4. Jika
diperlukan, tuliskan di bagian pengantar bahwa kita memanfaatkan teknologi
untuk mendukung produktivitas.
Ingat, AI bukan
pengganti kreativitas manusia. Ia hanya membantu kita menyalurkan ide-ide besar
menjadi tulisan nyata. Jangan takut, teruslah belajar dan menulis dengan jujur,
santun, dan semangat berbagi kebaikan. Insya Allah berkah
3. Pertanyaan
ke 3 oleh ibu Fatimah dari Bogor
Apakah menulis
resume ada batasan min
250 - 500 kata?
Jawab
Secara umum,
menulis resume tidak memiliki batasan baku seperti minimal 250–500 kata,
kecuali jika panitia, penyelenggara, atau pihak tertentu menetapkan ketentuan
khusus
Namun, beberapa hal penting yang
perlu diperhatikan:
Jika Resume untuk Tugas atau Lomba Menulis: Sering
kali ada aturan jumlah kata, misalnya:
* Minimum 250
kata
* Maksimum 500
kata
* Ini bertujuan
agar isi resume *padat, jelas, dan fokus*, tanpa terlalu panjang atau terlalu
ringkas.
Jika Resume untuk
Kepentingan Pribadi atau Laporan Biasa:
* Tidak wajib
mengikuti batasan tertentu.
* Tapi sebaiknya
tetap *ringkas dan mencerminkan inti isi bacaan* yang dirangkum.
* Periksa selalu
*petunjuk teknis (juknis)* jika resume ditulis untuk lomba, tantangan menulis,
atau penugasan.
* Jika tidak
disebutkan jumlah kata, usahakan resume *tidak terlalu pendek* (kurang dari 150
kata bisa dianggap terlalu minim), dan *tidak bertele-tele
Tidak selalu ada
batasan kata dalam menulis resume, *kecuali jika sudah ditentukan oleh pihak
penyelenggara*. Jadi, penting membaca instruksi dengan cermat.
4. Pertanyaan
ke 4 oleh ibu Fatimah dari Bogor
Saya
waktu ikut lomba PTK itu ada batasan mengambil dari bebrapa sumber dan terdetek
turnitinnya yg melewati 15% tidak lulus
Jawab
enar
sekali, dalam lomba Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau lomba karya tulis
ilmiah lainnya, plagiarisme adalah hal yang sangat diperhatikan. Salah satu
alat yang digunakan untuk mendeteksi tingkat kesamaan (similarity index) adalah
*Turnitin. Umumnya, batas maksimal tingkat kesamaan adalah **15%*, meskipun ini
bisa bervariasi tergantung kebijakan penyelenggara lomba.
Berikut
beberapa *tips agar naskah PTK tidak melebihi 15% Turnitin*:
1. Gunakan bahasa
sendiri (parafrasa): Jangan menyalin teks langsung dari internet atau sumber
lain. Bacalah sumber tersebut, pahami isinya, lalu tuliskan kembali dengan gaya
bahasa sendiri.
2. Cantumkan
sumber dengan benar: Jika mengutip, pastikan menggunakan kutipan langsung
(dengan tanda petik dan mencantumkan sumber) atau kutipan tidak langsung dengan
mencantumkan nama penulis dan tahun.
3. Minimalkan
kutipan langsung: Terlalu banyak kutipan langsung bisa meningkatkan skor
Turnitin. Gunakan kutipan seperlunya dan lebih banyak gunakan hasil analisis
atau pemikiran sendiri.
4. Perhatikan
bagian yang umum: Turnitin bisa mendeteksi frasa atau kalimat yang memang umum
digunakan. Meskipun bukan plagiat, tetap bisa terdeteksi. Oleh karena itu,
hindari terlalu banyak menggunakan kalimat baku dari sumber manapun.
5. Gunakan
Turnitin sebelum mengumpulkan: Jika memungkinkan, lakukan cek mandiri terlebih
dahulu melalui institusi atau kampus yang menyediakan layanan Turnitin agar
tahu bagian mana yang perlu direvisi.
Jadi, bukan tidak
boleh mengambil dari beberapa sumber, tetapi harus diolah kembali dan ditulis
dengan bahasa sendiri, serta mencantumkan sumber dengan benar.
5. Pertanyaan
kelima oleh Ibu Nur Tangerang
Apa tantangan
etika terbesar yang muncul saat menggunakan AI dalam penulisan artikel,
terutama terkait dengan orisinalitas dan plagiarisme?
Apakah ada batasan
atau jenis artikel tertentu yang sebaiknya tidak
ditulis menggunakan AI?
Pertanyaan ini
sangat penting dan relevan, Nur. Tantangan etika dalam penggunaan AI untuk
penulisan artikel memang perlu diperhatikan secara serius. Berikut adalah
penjelasan yang mendalam dan terstruktur:
Tantangan Etika Terbesar dalam Penggunaan AI untuk
Penulisan Artikel*
1. Orisinalitas dan Plagiarisme
AI bisa
menghasilkan teks yang miripdengan sumber-sumber yang ada di internet, meskipun
tidak selalu disalin secara langsung.
Penulis yang
mengandalkan AI sepenuhnya tanpa melakukan penyuntingan atau penyesuaian bisa
tanpa sadar menjiplak ide, gaya, atau struktur tulisan orang lain.
Ini menimbulkan
risiko plagiarisme tidak disengaja, karena AI "belajar" dari banyak
sumber tanpa menyebutkan referensi spesifik.
Solusi
Gunakan
AI sebagai alat bantu, bukan pengganti. Selalu lakukan penyuntingan manual,
tambahkan perspektif pribadi, dan gunakan alat cek plagiarisme untuk memastikan
keaslian tulisan.
Apakah
Ada Batasan Jenis Artikel yang Sebaiknya Tidak Ditulis Menggunakan AI?
Ya,
beberapa jenis artikel sebaiknya tidak sepenuhnya ditulis oleh AI, antara lain:
1.
Artikel
Ilmiah Akademik
Artikel yang
menuntut riset mendalam, kutipan valid, dan metodologi ilmiah harus ditulis dengan kehati-hatian.
AI belum dapat
menggantikan validitas ilmiah dan tanggung jawab penulis akademik dalam menilai
kualitas sumber.
2. Artikel Opini
atau Esai Pribadi
Tulisan seperti ini memerlukan pengalaman,
perasaan, dan sudut pandang manusia yang tidak bisa ditiru oleh AI secara
otentik.
Jika AI digunakan, sebaiknya hanya untuk
menyusun struktur atau memberi saran, bukan sebagai penulis utama.
3. Konten Sensitif
atau Etis
Misalnya, tulisan tentang agama, politik,
konflik sosial, atau kesehatan mental.
AI bisa salah
menafsirkan konteks dan menghasilkan pernyataan yang bias, tidak sensitif, atau
menyesatkan
Kesimpulan
Menggunakan AI
dalam penulisan artikel adalah peluang besar, tetapi juga membawa tanggung
jawab etis. Tantangan terbesar adalah menjaga orisinalitas dan menghindari
plagiarisme. Jenis-jenis artikel yang bersifat pribadi, ilmiah, atau sensitif
sebaiknya tetap ditulis dengan dominasi pemikiran manusia.
Jika
kamu sedang menulis artikel menggunakan AI, pastikan kamumengedepankan
integritas penulis, nilai-nilai kejujuran akademik, dan suara pribadimu. AI itu
alat bantu, bukan pengganti nurani penulis.
6.
Pertanyaan
ke 6 oleh Ibu Dyah dari Bandung
Tanya pengalaman
om jay sbg penulis ..Apa yg membuat om jay selalu termotivasi untuk
menulis setiap hari
Jawab
Pertanyaan dari
Dyah di Bandung ini sangat menarik dan menyentuh sisi inspiratif dari sosok Om
Jay, seorang guru sekaligus penulis produktif yang menjadi teladan banyak
orang.
Apa yang Membuat Om Jay Selalu Termotivasi
untuk Menulis Setiap Hari?
Berdasarkan berbagai tulisan, seminar, dan
wawancara dengan beliau, berikut ini beberapa hal yang menjadi sumber motivasi
kuat Om Jay dalam menulis setiap hari:
1. Menulis sebagai Bentuk Ibadah dan
Legacy
Om Jay percaya
bahwa menulis adalah amal jariyah. Tulisan bisa menjadi bekal kebaikan yang
terus mengalir pahalanya, bahkan setelah kita tiada. Inilah yang membuatnya
**tidak pernah kehabisan semangat*, karena setiap huruf adalah bagian dari
jejak hidup yang bermakna.Dengan menulis, saya bisa terus hadir meski tubuh tak
lagi ada," ujar Om Jay dalam salah satu blognya.
2. Menulis untuk Menginspirasi dan
Menguatkan Guru Lain
Sebagai guru,
beliau tahu bahwa banyak rekan guru menghadapi tantangan berat, terutama guru
honorer, guru TIK, atau guru yang belum mendapatkan pengakuan setimpal. Menulis
adalah cara untuk menyuarakan harapan, perjuangan, dan solusi.Ia kerap menulis
kisah nyata perjuangan guru dari pelosok, agar dunia tahu bahwa "guru
biasa bisa menjadi luar biasa.
3. Konsistensi Melatih Diri*
Om Jay melatih
disiplin dengan menulis setiap hari, bahkan jika hanya satu paragraf. Bagi
beliau, menulis itu seperti olahraga*, harus dibiasakan agar menjadi bagian
dari hidup.
Ia pernah berkata, "Kalau tak menulis,
saya seperti kehilangan sesuatu hari itu."
Itulah mengapa
blog pribadinya selalu aktif dan penuh tulisan baru.
4. Komunitas yang
Mendukung dan Menantang
Om Jay aktif di berbagai komunitas menulis
guru, termasuk menjadi mentor dalam Tantangan Menulis 30 Hari”. Dengan terus
mengajak dan mendampingi orang lain menulis, beliau pun terus terdorong untuk
menulis juga. Motivasi tumbuh dari saling menyemangati.
Kesimpulan
Motivasi Om Jay
untuk menulis setiap hari berasal dari niat yang kuat, visi yang mulia, dan
kedisiplinan pribadi. Ia menjadikan menulis bukan sekadar aktivitas, tetapi
**misi hidup untuk berbagi, memperjuangkan, dan menginspirasi.
Kalau Dyah ingin
mengikuti jejak Om Jay, mulailah dari hal kecil: tulis apa yang kamu alami,
rasakan, dan pikirkan hari ini. Siapa tahu, tulisan sederhana itu kelak menjadi
sumber inspirasi bagi banyak orang.
7.
Pertanyaan
ke 7 dari Ibu Yanti Tangerang
Malam om Jay mau
tanya nih, bagian mana menurut om Jay yang paling menantang dalam proses
penulisan cerita fiktif, non fiktif atau artikel ilmiah dan bagaimana cara
mengatasinya Ketika mengahadapi tantangan tersebut?
Jawab
Pertanyaan dari
Yanti di Tangerang ini sangat bagus karena menyentuh *tiga jenis tulisan yang
berbeda tantangannya*: fiksi, non-fiksi, dan artikel ilmiah. Berdasarkan
pengalaman Om Jay yang sering beliau bagikan di blog, pelatihan, dan komunitas
menulis, berikut ini jawaban yang bisa mewakili sudut pandang beliau:
Bagian Paling
Menantang dalam Menulis dan Cara Mengatasinya (Versi Om Jay)
1. Cerita Fiktif
(Fiksi)
Tantangan
Menciptakan *alur
cerita yang menarik dan karakter yang hidup
Om Jay mengakui
bahwa menulis fiksi memerlukan *imajinasi yang tajam dan emosi yang kuat*.
Tidak cukup hanya pandai menulis, penulis fiksi harus bisa membuat pembaca
merasa "terlibat" dan terhubung dengan cerita.
Cara Mengatasi:
Banyak membaca
novel, cerpen, dan karya sastra.
Latihan membuat
*kerangka cerita* (plot) sebelum menulis.
Mengamati
kehidupan nyata untuk inspirasi karakter dan konflik.
Saya sering
mengamati orang-orang di sekitar saya, lalu membayangkan jika mereka menjadi
tokoh dalam cerita, kata Om Jay dalam salah satu webinar.
2. Cerita
Non-Fiktif (Pengalaman, Kisah Nyata)
Tantangan
Menulis dengan
jujur dan menyentuh, tanpa berlebihan atau membosankan
Tulisan non-fiktif
harus menggambarkan realitas, tetapi tetap enak dibaca dan menggugah.
Tantangannya adalah menyusun kisah nyata secara runtut dan bermakna
Cara Mengatasi
· Gunakan teknik
menulis kreatif untuk menyampaikan kisah nyata.
· Fokus pada pesan
moral atau pelajaran yang ingin dibagikan
· Tulis seolah-olah
sedang bercerita kepada teman dekat.
3. Artikel Ilmiah
Tantangan:
Menyajikandata dan
referensi yang akurat*, serta menulis dengan bahasa yang jelas dan formal.
Artikel ilmiah
harus berdasarkan fakta dan sumber terpercaya. Tantangan terbesarnya adalah
meramu hasil penelitian atau kajian pustaka menjadi tulisan yang padat dan
sistematis*.
Cara Mengatasi:
· Gunakan kerangka
penulisan ilmiah: pendahuluan, kajian teori, metodologi, hasil, pembahasan, dan
kesimpulan.
· Rutin membaca
jurnal dan belajar dari contoh artikel yang baik.
· Sering berdiskusi
dengan teman sejawat atau pembimbing.
Kalau saya buntu,
saya berdiskusi dengan teman guru atau mencari jurnal referensi baru agar ide
saya berkembang lagi," kata Om Jay.
Kesimpulan
Setiap jenis
tulisan punya tantangannya sendiri. Namun, menurut Om Jay, cara terbaik
menghadapinya adalah dengan terus belajar, membaca, menulis, dan berbagi.
Konsistensi dan semangat berbagi itulah yang akan membuat kita tumbuh sebagai
penulis.
8. Pertanyaan ke 8 Oleh
Bapak Sukarno dari Makassar
Apa titik balik membuat
omjay memulai menulis, bagaima om Jay menjaga konsistensi menulis ditengah
kesibukan sebagai guru, apakah omjay pernah mengalami kehilangan ide saat
menulis.. Mohon ijin
Jawaban Om Jay
Titik balik saya
mulai menulis terjadi ketika saya
menyadari bahwa pengalaman saya sebagai guru begitu berharga jika dibagikan.
Awalnya, saya hanya menulis di blog pribadi sekadar mencatat kegiatan harian
sebagai guru TIK. Tapi kemudian saya mendapat respons positif dari pembaca,
terutama sesama guru, yang merasa terbantu dan terinspirasi. Dari situ saya
sadar, tulisan sederhana pun bisa berdampak besar.
Untuk menjaga
konsistensi menulis, saya menanamkan prinsip bahwa menulis adalah bagian dari
napas kehidupan saya sebagai pendidik. Sama seperti saya hadir di kelas untuk
siswa, saya juga harus hadir di dunia literasi untuk menyemai inspirasi. Saya
meluangkan waktu setiap hari, meski hanya 15-30 menit, untuk menulis. Kadang
pagi hari sebelum mengajar, kadang malam saat suasana sudah tenang. Saya tidak
menunggu waktu luang, tapi menyempatkan diri.
Soal
kehilangan ide? Tentu pernah. Saya juga manusia. Tapi biasanya saya tidak
memaksa diri. Saat ide macet, saya membaca tulisan orang lain, berdialog dengan
teman sejawat, atau sekadar merenung sambil minum teh. Inspirasi bisa datang
dari hal-hal sederhana: dari murid, dari ruang kelas, dari masalah yang saya
hadapi sehari-hari sebagai guru. Bahkan komentar kecil dari siswa bisa menjadi
bahan tulisan. Intinya, menulislah dengan hati, maka ide akan mengalir tanpa
henti.
9. Pertanyaan ke 9 dari Ibu
Dwi – Depok:
Mau tanya Om Jay,
bagaimana kita menyikapi isu hak cipta dan kepemilikan intelektual dari konten
yang dihasilkan sebagian atau seluruhnya oleh AI?"*
Jawaban Om Jay
Di era digital dan
kecerdasan buatan (AI) seperti sekarang, kita memang dihadapkan pada tantangan
baru dalam dunia literasi dan kepenulisan, termasuk soal hak cipta dan
kepemilikan intelektual
Pertama, kita
perlu menyadari bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti kreativitas
manusia. Konten yang dihasilkan AI tetap perlu sentuhan manusia: dari ide,
penyuntingan, hingga penyampaian pesan yang menyentuh nurani. Oleh karena itu, penulis
manusia tetap punya tanggung jawab moral dan intelektual terhadap apa yang
dipublikasikannya
Kedua, jika kita
menggunakan AI dalam menulis — baik sebagian atau seluruhnya — sebaiknya transparan
dan jujur. Sebutkan bahwa tulisan dibantu AI, atau hasil kolaborasi manusia dan
mesin. Ini bagian dari etika literasi di era baru. Jangan mengklaim sepenuhnya
sebagai karya orisinal jika ada campur tangan signifikan dari teknologi.
Ketiga,
kita perlu belajar dan mengikuti perkembangan hukum terkait hak cipta AI. Saat
ini, di banyak negara (termasuk Indonesia), karya yang sepenuhnya dihasilkan
oleh AI belum diakui sebagai memiliki hak cipta. Hak cipta biasanya tetap
melekat pada manusia yang mengarahkan, menyunting, dan menerbitkan karya
tersebut.
Sebagai
guru dan pendidik, marilah kita ajarkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab,
dan orisinalitas pada generasi muda*, termasuk dalam memanfaatkan teknologi. AI
bisa mempercepat, tetapi hati dan nilai manusialah yang membuat sebuah karya
menjadi bermakna.
Masih adakah yng ingin bertanya?
Karena pertanyaan ke 9 terkahir masuk,
maka dilakukan closing statemen dan waktunya juga sudah Berakhir,
Closing Statement dari Om
Jay:
"Jangan
pernah remehkan tulisan sederhana yang kamu kirim hari ini, meski hanya di
WhatsApp. Bisa jadi, tulisan itu menyelamatkan semangat seseorang, membuka
jalan inspirasi, atau menjadi kenangan yang tak tergantikan. Menulislah dari
hati, karena tulisan yang lahir dari hati akan menembus hati-hati yang
lain." Setiap orang bisa menulis paling tidak menulis di WA.
Intinya pada resume pertemuan
ke 1 ini adalah tulislah dengan hati dan bersahabat dengan Teknologi
Comments