Resume Pertemuan ke 20,Teknik menulis Buku Best Seller
Resume
Pertemuan ke 20
Judul : Teknik menulis Buku Best Seller
Penyusun
: Safrizal
Resume
ke : 20
Gelombang :
33
Hari/
Tanggal : Jum'at, 12 September 2025
Tema
: Teknik menulis Buku
Best Seller
Narasumber :
Akbar Zainuddin Fanani,MM.,MNE.
Moderator :
Edmu Yulfizar Abdan Syakura, G.r. MPd,
Teknik menulis
Buku Best Seller
Materi Malem Teknik
menulis Buku Best Seller terdiri dari 8 point yaitu: “MANJADDA”
Adapun singkatan MANJA
DDA adalah sebagai berikut:
🖋 Mulai dari sekarang
🖋 Atur ide dan outline
🖋 Nikmati proses menulis
🖋 Jaga konsistensi
🖋 Ambil inspirasi dari sekitar
🖋 Dengarkan kebutuhan pembaca
🖋 Disiplin revisi
🖋 Aktif promosi
Uraian secara rinci dari point tersebut adalah sebagai berikut:
1. M — Mulai dari Sekarang
2. A — Atur Ide dan Outline
Menulis tanpa arah itu seperti berkendara tanpa peta. Kita bisa berputar-putar, kehilangan tenaga, dan tidak sampai tujuan. Karena itu, penting sekali membuat outline sebelum mulai menulis. Outline adalah kerangka besar yang memandu kita dari awal hingga akhir.
Penulis profesional dunia pun menggunakan outline. J.K. Rowling, penulis Harry Potter, membuat outline detail untuk tujuh bukunya bahkan sebelum novel pertama diterbitkan. Kerangka itu membuat ceritanya konsisten dan kuat hingga akhir.
3. N — Nikmati Proses Menulis
Jika kita menikmatinya, menulis bisa menjadi aktivitas menyenangkan. Jangan selalu berpikir tentang target halaman atau kapan bukumu selesai. Fokuslah menikmati setiap kalimat yang keluar dari pikiranmu.
Contoh sederhana, banyak penulis novel mengaku menemukan kebahagiaan ketika larut dalam dunia tokoh-tokoh ciptaannya. Andrea Hirata menulis Laskar Pelangi sambil membayangkan wajah kawan-kawan masa kecilnya. Ketika menulis dengan rasa senang, tulisan itu akan mengalir dengan lebih jujur dan hangat.
4. J — Jaga Konsistensi
Konsistensi itu ibunya kualitas. Kalau kita konsisten kualitas tulisan kita akan semakin baik. Jauh lebih penting adalah latihan menulis setiap hari. Sekali lagi, setiap hari. Sekali lagi, setiap hari.
Contohnya, Habiburrahman El Shirazy (penulis Ayat-Ayat Cinta) menceritakan bahwa ia meluangkan waktu menulis secara rutin setiap hari. Ia tidak menunggu “mood”, karena mood itu datang dan pergi. Justru dengan rutinitas, ide-ide segar lebih mudah muncul.
5. A — Ambil Inspirasi dari Sekitar
Kita menulis itu bukan mengawang-awang. Jauh lebih baik kalau kita menulis itu terinspirasi dari kejadian atau kehidupan nyata sekitar kita. Sehingga tulisan kita itu seakan-akan ngobrol dengan pembaca. Bukan kita berbicara sendiri lewat tulisan. Kalau kita seakan-akan ngobrol dengan pembaca, maka mereka akan merasa lebih enak untuk membaca buku kita. Itu kunci penting agar tulisan kita bisa lebih komunikatif.
Contohnya, Tere Liye banyak menulis kisah dari pengalaman masa kecilnya di Sumatera. Sederhana, tapi karena ditulis dengan jujur, ceritanya bisa menyentuh hati jutaan pembaca. Begitu juga dengan buku catatan harian Diary of a Wimpy Kid, yang idenya muncul dari keseharian seorang anak sekolah.
Cobalah mulai memperhatikan sekitar: obrolan di warung kopi, perjuangan tetangga, atau pengalaman pribadi saat jatuh bangun. Dari situ, kamu bisa menemukan cerita yang autentik dan dekat dengan pembaca.
6. D — Dengarkan Kebutuhan Pembaca
Buku best seller lahir bukan hanya dari keinginan penulis, tapi dari kebutuhan pembaca
Kalau
buku fiksi, sebaiknya dirancang sesuai dengan kebutuhan pembaca. Sehingga buku
kita akan menjawab apa kebutuhan pembaca.
Orang mau membeli karena mereka mendapatkan jawaban dari permasalahan yang mereka miliki. Pertanyaan pentingnya: buku kita menjawab persoalan atau kebutuhan apa dari pembaca?
Penulis
yang bijak tahu bahwa menulis itu bukan sekadar memuaskan dirinya, tapi juga
memberi solusi dan manfaat bagi orang lain.
Contoh, buku Chicken Soup for the Soul laris di seluruh dunia karena menjawab kebutuhan orang: mereka ingin kisah inspiratif yang singkat, nyata, dan menenangkan hati. Di Indonesia, buku La Tahzan juga menjadi best seller karena menyentuh keresahan banyak orang yang sedang galau.
7. D — Disiplin Revisi
Revisi bukan berarti tulisanmu jelek, tapi justru tanda keseriusanmu untuk memberikan yang terbaik bagi pembaca.
Contohnya, Ernest Hemingway, penulis besar dunia, mengaku sering merevisi karyanya berkali-kali. Bahkan ada naskah yang direvisi hingga 39 kali sebelum akhirnya dipublikasikan. Begitu juga dengan para penulis di Indonesia, mereka biasanya menghabiskan waktu lebih banyak untuk revisi daripada menulis draft pertama.
Jangan malas untuk membaca ulang, memperbaiki kalimat, menghapus yang tidak perlu, atau menambahkan yang penting. Ingat, kualitas buku terletak pada revisinya, bukan hanya pada ide awalnya.
Apa yang direvisi dari tulisan kita?
1. Informasi tanggal, tahun, peristiwa.
2.
Ejaan dan kaidah.
3.
Istilah bahasa asing.
4.
Penyelarasan gaya tulisan keseluruhan, mesti sama dari awal sampai akhir.
8. A — Aktif Promosi
Jangan malu atau merasa sungkan untuk mempromosikan karya sendiri. Ingat, jika kamu tidak memperkenalkan bukumu, siapa lagi?
Contoh, banyak penulis muda menggunakan media sosial untuk mengenalkan bukunya. Raditya Dika sukses menjadikan blog pribadinya sebagai jalan menuju buku best seller. Ia aktif berbagi cerita, berinteraksi dengan pembaca, hingga akhirnya bukunya laris di pasaran.
Jangan malu dan takut untuk jualan buku kita. Di manapun kesempatan itu ada, manfaatkan untuk jualan.
Kita tidak akan hina dengan jualan buku. Percaya saja apa yang mereka dapatkan itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan uang yang mereka keluarkan. Itu juga yang membuat saya percaya diri untuk menjual buku-buku saya.
Salah satu pertanyaan paling penting untuk buku adalah:
1. Apa yang mereka dapatkan setelah membaca buku saya?
2. Buku saya
menjawab kebutuhan apa dari para pembaca?
3. Apakah mereka mau mengeluarkan uang untuk membeli buku agar mendapatkan jawaban dari
permasalahan yang mereka hadapi?
Tentang panduan menulis yang super lengkap ada pada link berikut ini.
https://vt.tiktok.com/ZSDfr5phE/
Comments